Rabu, 17 Oktober 2012

Karya Tulis Tema GLOBAL WARMING


INTI SARI
Air sangat penting sehingga membuat kehidupan tak akan berjalan tanpa adanya air. Air yang ada di bumi terbentuk karena adanya siklus hidrologi. Siklus inilah yang perlu dijaga agar tetap berjalan normal. Bila siklus tersebut berjalan normal, maka dapat mempertahankan kuantitas dan kualitas air bumi.
Saat ini siklus hidrologi tak lagi berjalan normal, karena terganggu oleh penyalahgunaan air dan berbagai kegiatan manusia dalam mempertahankan hidupnya. Kegiatan-kegiatan manusia yang tak sewajarnya dan penyalahgunaan air tersebut seperti dalam bidang industri, rumah tangga, pertanian, kehutanan dan berbagai aspek lainnya. Masalah penebangan hutan dan global warming juga merupakan penyebab terganggunya siklus hidrologi yang ditandai dengan kekeringan panjang pada musim kemarau dan banjir pada musim penghujan.
Upaya pengelolaan air yang paling mudah, cepat dan praktis adalah dengan memulai dari diri sendiri untuk mengefisienkan penggunaan air dan adanya kerjasama berbagai aspek kehidupan untuk bersama-sama mengatasi masalah rendahnya kuantitas dan kualitas air saat ini. Misalnya dalam bidang kehutanan dan pertanian dengan mendukung, mensukseskan dan melaksanakan NTB hijau untuk penanaman pohon dan tanaman pangan.
Dengan adanya pengelolaan air terpadu yang melibatkan semua aspek kehidupan  manusia, maka diharapkan masing-masing aspek tersebut mampu berjalan sebagaimana mestinya tanpa harus merusak lingkungan air. Sehingga manusia mampu bersahabat dekat dengan air dan saling menguntungkan.

PENDAHULUAN
1.      LATAR BELAKANG
Air memang tampak sederhana, sesederhana kata ‘air’ itu sendiri. Namun, ketidakberdayaan makhluk hidup tanpa air semestinya membuat kita berfikir bahwa air ternyata menyimpan segudang informasi yang sungguh penting. Dengan memiliki pengetahuan inilah kita akan mengetahui betapa air, molekul yang hanya tersusun atas dua atom hidrogen dan satu atom oksigen, adalah cairan yang sangat luar biasa. Dibalik segala keistimewaannya, air juga dapat mendatangkan bencana.
Kekeringan atau banjir adalah dua bencana akibat air yang sangat kurang atau terlalu berlimpah. Ini adalah isyarat penting betapa air tidak sekedar diciptakan begitu saja. Namun, air juga harus ada tersedia dalam jumlah yang seimbang agar kehidupan di bumi dapat berlangsung dengan baik.
Ketersediaan air di bumi sangat diperngaruhi oleh siklus hidrologi. Siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi. Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi dapat berjalan secara kontinyu.
Jumlah air di bumi sangat banyak, baik dalam bentuk cairan, uap, maupun padat/ es. Jumlah air seakan terlihat semakin banyak karena es di kutub utara dan kutub selatan mengalami pencairan terus-menerus akibat pemanasan global bumi sehingga mengancam kelangsungan hidup manusia di bumi.
Namun, hal tersebut berbanding terbalik dengan apa yang kita rasakan saat ini. Setiap hari air semakin sulit untuk didapat dan menjadi barang mahal. Kini, kita harus membeli air untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Entah apa jadinya dunia tanpa air. Tentu kita tak pernah membayangkan bila air sudah tak ada lagi, maka kehidupan pun tak akan pernah ada.
Kegiatan yang dilakukan oleh manusia dalam mempertahankan hidupnya, justru memperparah keadaan alam dan lingkungan yang tidak bersahabat. Banyak penyalahgunaan lahan/ konversi lahan, penebangan hutan/ pembalakan liar dan tidak tidak adanya efisiensi dalam pemanfaatan air. Terkadang manusia mampu menjadi pahlawan untuk lingkungan tetapi di sisi lain, ada pula individu yang serakah dan egois dalam bertindak.
Untuk mengetahui dan memecahkan permasalahan di atas, inilah yang melatarbelakangi kami menyusun karya ilmiah ini. Informasi dari karya ilmiah ini, diharapkan dapat memberikan informasi dan tambahan pengetahuan bagi para pembaca, agar dapat mendorong perubahan dalam mencapai kehidupan dan lingkungan air yang bersahabat dan saling menguntungkan.





2.      RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah yang terdapat dalam karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :
1.      Mengapa kualitas dan kuantitas air bumi saat ini menurun?
2.      Apakah dampak penurunan kualitas dan kuantitas air bumi bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat?
3.      Bagaimana menjadikan air sebagai sahabat dekat manusia?
4.      Bagaimana manajemen pengelolaan air terpadu dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan kualitas dan kuantitas air?

3.      TUJUAN PENULISAN
Karya ilmiah ini bertujuan untuk :
1.      Mengetahui penyebab penurunan kualitas dan kuantitas air di bumi,
2.      Mengetahui dampak yang terjadi karena penurunan kualitas dan kuantitas air bumi, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Barat,
3.      Mengetahui bagaimana menjadikan air sebagai sahabat manusia dan manajemen pengelolaan air terpadu untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas air yang merupakan kerjasama berbagai bidang kehidupan.

4.      MANFAAT PENULISAN
Karya ilmiah ini memiliki manfaat sebagai berikut :
1.      Sebagai media informasi dan pembelajaran mengenai manajemen pengelolaan air secara terpadu,
2.      Menyadarkan masyarakat untuk saling bekerjasama disegala bidang kehidupan, dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas air.
TINJAUAN PUSTAKA
Air yang ada di bumi terbentuk karena adanya siklus hidrologi, dimana siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi. Siklus inilah yang perlu dijaga agar tetap berjalan normal. Bila siklus tersebut berjalan normal, maka dapat mempertahankan kuantitas dan kualitas air bumi (http://www.lablink.or.id/).
Air, benda yang paling berharga di dunia, saat ini mengalami penurunan kualitas dan persediaannya sudah sampai pada tahap yang kritis. Bukan hanya di Indonesia yang mengalami masalah air ini, tapi masyarakat dunia pun sedang mengahadapi persolan yang sama. Penurunan kualitas dan persediaan air akibat tercemar limbah seperti limbah industri, limbah rumah tangga dan limbah yang lainnya (http://m.cybermq.com)
Laju kerusakan hutan NTB mencapai 20 ribu hektar pertahun yang menjadi persoalan mendasar yang perlu dipecahkan, karena persoalan tersebut membawa permasalahan baru yakni menyusutnya  mata air yang terjadi begitu cepat (http://infostatntb.wordpress.com/).
Masalah air terjadi karena adanya peningkatan penduduk bumi sehingga meningkatkan pula kebutuhan air. Kebutuhan yang meningkat akan semakin menekan pada sistem air global yang berkaitan dengan efek pemanasan global. Peningkatan jumlah penduduk dan ekonomi menjadi pendorong utama kebutuhan air, sementara itu ketersediaannya dipengaruhi oleh peningkatan evaporasi (penguapan) akibat peningkatan temperatur permukaan bumi (http://assets.wwfid.panda.org/downloads/watershed_ina_lores.pdf).
Peristiwa banjir dan tanah longsor di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara dan Kabupaten Sumbawa Barat, NTB terjadi pada tanggal 9 dan 10 Januari 2009. Kejadian ini terjadi karena tingginya curah hujan sepanjang tanggal 9-10 Januari 2009 yang menyebabkan bobot massa tanah bertambah sehingga terjadi gerakan tanah pada lereng bagian atas yang lemah yang berbatasan dengan batuan keras pada bagian bawah.
Material longsor diperkirakan membendung aliran sungai yang kemudian jebol karena tidak sanggup menahan kuatnya aliran air. Volume air yang besar kemudian mengalir di sepanjang aliran dengan menggerus bagian kiri, kanan dan dasar sungai sehingga menyebabkan banjir bandang yang melanda pemukiman di lereng bagian bawah (http://www.ppk-depkes.org/)
Pertanian beririgasi merupakan pengguna air terbesar. Pada umumnya, lebih 80% dari air yang ada dicurahkan khusus untuk pertanian. Tetapi karena biasanya air disalurkan dengan gratis atau dengan tarif yang banyak disubsidi, maka kecil sekali dorongan niat untuk menggunakan air secara efisien dan retribusinya, jika ada, tidak akan mencukupi untuk pemeliharaan yang layak
Bidang industri sesungguhnya menggunakan air jauh lebih sedikit apabila dibandingkan dengan bidang pertanian (irigasi), namun dampaknya lebih parah bila dipandang dari dua segi. Pertama, penggunaan air bagi industri sering tidak diatur dalam kebijakan sumber daya air nasional, maka cenderung berlebihan. Kedua, pembuangan limbah industri yang tidak diolah dapat menyebabkan air permukaan atau air bawah tanah menjadi terlalu berbahaya untuk dikonsumsi
Konversi lahan pertanian yang semakin meningkat akhir-akhir ini merupakan salah satu ancaman terhadap keberlanjutan pertanian. Salah satu pemicu alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan lain adalah rendahnya isentif bagi petani dalam berusaha tani dan tingkat keuntungan berusahatani relatif rendah (http://www.tempointeraktif.com/nasional/)
Situasi di wilayah perkotaan jauh lebih jelek daripada di daerah sumber air. Banyak rumah tangga yang terlayani terpaksa merawat WC dengan cara seadanya karena langkanya air, dan tanki septik membludak karena layanan pengurasan tidak dapat diandalkan, atau hanya dengan menggunakan cara-cara lain yang sama-sama tidak tuntas dan tidak sehat.
Kira-kira 30% penduduk perkotaan harus menerima keadaan bahwa mereka tidak memiliki perangkat sanitasi yang memadai. Hal ini berarti bahwa dalam suatu kota berpenduduk 10 juta orang, setiap hari ada kira-kira 750 ton limbah manusia yang tak tertampung dan menumpuk di sembarang tempat -mungkin 250.000 ton zat-zat penyebab penyakit tersebar di jalan-jalan dan di tempat-tempat umum, atau di saluran-saluran air (http://klm-micro.com/blog/)


METODOLOGI PENULISAN
Metodologi penulisan yang digunakan dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini adalah studi kepustakaan dari perpustakaan Universitas Mataram, data-data sekunder diambil dari artikel dan brosur-brosur, data-data sekunder dari Badan Pusat Statistik, Bapeda dan browsing internet.














PEMBAHASAN
1.      MENURUNNYA KUALITAS DAN KUANTITAS AIR BUMI




Menurunnya kualitas dan kuantitas air saat ini disebabkan karena siklus hidrologi yang merupakan proses terbentuknya air bumi telah terganggu dan tidak lagi berjalan dengan normal.

Siklus Hidrologi Normal
            Siklus hidrologi terus bergerak secara kontinyu,  yaitu dengan cara sebagai berikut :
1.      Evaporasi, transpirasi dan Evapotranspirasi (Penguapan),
2.      Kondensasi (pengembunan),
3.      Presipitasi (pembentukan hujan) dan
4.      Perkolasi / Infiltrasi  (pembentukan air bawah tanah)
Bila salah satu dari proses di atas terganggu, maka akan mengganggu proses yang lain karena  pada dasarnya siklus hidrologi tersebut memiliki proses yang berputar dan setiap prosesnya saling mendukung.
Tidak normalnya siklus hidrologi disebabkan oleh banyak faktor, selain karena umur bumi yang sudah tua, berbagai kegiatan manusia juga menimbulkan dampak yang memperparah ketidaknormalan siklus hidrologi tersebut. Salah satu contoh kegiatan manusia  seperti penebangan liar pada hutan-hutan yang masih produktif, yang merupakan sumber mata air. Penebangan hutan yang terus terjadi menyebabkan kerusakan hutan.
Badan Pusat Statistik NTB menyatakan pada tahun 2009 yang lalu, laju kerusakan hutan NTB mencapai 20 ribu hektar pertahun yang menjadi persoalan mendasar yang perlu dipecahkan, karena persoalan tersebut membawa permasalahan baru yakni menyusutnya  mata air yang terjadi begitu cepat. Selain itu, menyebabkan terjadinya pemanasan global.
            Pemanasan global atau yang dikenal dengan istilah global warming begitu hangat dibicarakan beberapa tahun terakhir ini, karena manusialah yang paling merasakan dampaknya. Karena pemanasan global yang terjadi, iklim di Nusa Tenggara Barat sejak 2008 lalu suhunya naik lebih cepat dari rata-rata dunia, yang terjadi akibat degradasi sumber daya alam di Nusa Tenggara Barat relative parah, sehingga terindikasi dari kenaikan suhu udara selama 35 tahun terakhir.
Kenaikan suhu udara periode januari 1971 sampai 2006 rata-rata 0.5oC atau melampaui kenaikan suhu rata-rata dunia sebesar 0.7 oC per 100 tahun. Pada periode tahun yang sama, di Provinsi Nusa Tenggara Barat suhu maksimal sebesar 32 oC, namun 35 tahun terakhir meningkat menjadi 34-35 oC. Kenaikan suhu udara itu, antara lain dipicu oleh kerusakan lingkungan, terutama kawasan hutan dan pertanian yang kemudian berpengaruh terhadap segala bidang kehidupan sosial (http : //raisfawwazi.blogspot.com)
Salah satu persoalan kebutuhan manusia yang terpengaruh sebagai dampak pemanasan global tersebut adalah ketersedian air. Ketersediaan air merupakan permasalahan yang penting yang terkait dengan perubahan iklim. Masalah air terjadi karena adanya peningkatan penduduk bumi sehingga meningkatkan pula kebutuhan air.
Kebutuhan yang meningkat akan semakin menekan pada sistem air global yang berkaitan dengan efek pemanasan global. Peningkatan jumlah penduduk dan ekonomi menjadi pendorong utama kebutuhan air, sementara itu ketersediaannya dipengaruhi oleh peningkatan evaporasi (penguapan) akibat peningkatan temperatur permukaan bumi
            Selain adanya pengaruh pemanasan global, penurunan kualitas dan persediaan air adalah akibat dari pencemaran limbah seperti limbah industri, limbah rumah tangga dan limbah yang lainnya. Untuk mengetahui kualitas air dalam suatu perairan, dapat dilakukan dengan mengamati beberapa parameter kimia, seperti oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) dan kebutuhan oksigen biologis (Biological Oxy-gen Demand= BOD).
            Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut. Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung sari beberapa faktor, seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus, gelombang dan pasang surut (http://m.cybermq.com).
Untuk mengetahui kualitas air PDAM di wilayah Nusa Tenggara Barat, dapat dilihat pada tabel berikut :
Data Bakteriologis dan Status Desinfeksi PDAM NTB Tahun 2009
Propin-si
Kabu-paten/
Kota
Tri-
wu-lan
Ta-hun
Jum-
lah
SR PDAM
Jum-lah
sam-pel
bakte-riol
%
hasil sam-pel
TAR
%
hasil sam-pel
RR
%
hasil sam-pel
RT
Jum-lah
Sam-pel
Sisa Khlor
MS
Sisa
Khlor
NTB
PDAM Menang Mataram
1
2002
35000
102
65
35
102
28
NTB
PDAM Menang Mataram
2
2002
35000
104
71
29
104
29
NTB
PDAM Menang Mataram
4
2002
35000
59
80
20
59
56
NTB
PDAM Menang NTB
3
2002
35000
103
67
33
103
43
NTB
PDAM Mataram
1
2003
40000
196
92,9
0,5
6,6


2.      DAMPAK TERGANGGUNYA  KUALITAS DAN KUANTITAS AIR DI NUSA TENGGARA BARAT
            Salah satu dampak terganggunya kualitas dan kuantitas air di NTB adalah banjir dan tanah longsor akibat tingginya curah hujan. Peristiwa banjir dan tanah longsor di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara dan Kabupaten Sumbawa Barat, NTB terjadi pada tanggal 9 dan 10 Januari 2009. Disamping menyebabkan rusaknya 30 rumah penduduk, terputusnya jalur penghubung antar pemukiman sebagai akibat rusaknya jembatan, dan putusnya pipa saluran air bersih di Dusun Todo, Desa Bentek, juga mengakibatkan rusaknya beberapa PLTMH di Kabupaten Lombok Barat (http://www.ppk-depkes.org/)
Karena tingginya curah hujan, bobot massa tanah bertambah sehingga terjadi gerakan tanah pada lereng bagian atas yang lemah yang berbatasan dengan batuan keras pada bagian bawah. Material longsor diperkirakan membendung aliran sungai yang kemudian jebol karena tidak sanggup menahan kuatnya aliran air. Volume air yang besar kemudian mengalir di sepanjang aliran dengan menggerus bagian kiri, kanan dan dasar sungai sehingga menyebabkan banjir bandang yang melanda pemukiman di lereng bagian bawah.
Akibat insiden tanah longsor tersebut, beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Tengah mengalami kerusakan. PLTMH tersebut adalah Sedau I, Sedau II, Selelanai dan Lantan, dengan total kerugian lebih dari Rp. 3 miliar. Diperkirakan layanan listrik untuk ± 1.150 KK akan terputus sampai dengan beroperasinya kembali PLTMH tersebut.
3.      MENJADIKAN AIR SEBAGAI SAHABAT DEKAT MANUSIA
            Setiap tanggal 22 Maret diperingati sebagai World Water Day (Hari Air Sedunia). Air, benda yang paling berharga di dunia, saat ini mengalami penurunan kualitas dan persediaannya sudah sampai pada tahap yang kritis. Bukan hanya di Indonesia yang mengalami masalah air ini, tapi masyarakat dunia pun sedang mengahadapi persolan yang sama. Penurunan kualitas dan persediaan air akibat tercemar limbah seperti limbah industri, limbah rumah tangga dan limbah yang lainnya.
            Kesadaran dan kepedulian dari seluruh masyarakat dunia diperlukan untuk memanfaatkan dan melestarikan sumber daya air (SDA) secara berkelanjutan. Maka kita sebagai makhluk yang 70 %-nya terdiri dari air seharusnya menyadari bahwa air mempunyai peranan yang sangat vital. Dan air pun merupakan sumber daya alam yang memenuhi hajat hidup orang banyak, sehingga perlu dilindungi agar dapat tetap bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya.
            Sekitar 71 % dari muka bumi  ini adalah air. Kehidupan hampir seluruhnya air, 50 sampai 97 persen dari seluruh berat tanaman dan hewan hidup juga air. Oleh karena itu, “Mari Kita Selamatkan Air Mulai Saat ini” dan  “Menjadikan Air Sebagai Sahabat Dekat Manusia”
            Salah satu caranya adalah mengurangi pencemaran terhadap air, membuang sampah pada tempat yang semestinya, jangan membuang sampah ke selokan, menanam kembali pohon-pohon yang dapat menyerap air dan menyimpan air. Selain menyelamatkan persediaan air (kuantitas), kita juga perlu mempertimbangkan kualitas airnya. Selain itu, dengan menggunakan air seefisien mungkin, mampu menjadikan hal kecil menjadi sesuatu yang besar untuk lingkungan dan kehidupan.
4.      MANAJEMEN PENGELOLAAN AIR TERPADU
            Usaha peningkatan kualitas dan kuantitas air dilaksanakan secara bersama-sama dan saling mendukung antar segala bidang kehidupan, misalnya dalam bidang pertanian, kehutanan, industri, rumah tangga, dll. Dengan adanya kerja sama disemua bidang kehidupan, untuk menciptakan keseimbangan air di bumi dan menjaga siklus hidrologi yang berlangsung normal.
            Manajemen pengelolaan air terpadu dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
1.      Bidang Pertanian
Pertanian beririgasi merupakan pengguna air terbesar. Pada umumnya, lebih 80% dari air yang ada dicurahkan khusus untuk pertanian. Tetapi karena biasanya air disalurkan dengan gratis atau dengan tarif yang banyak disubsidi, maka kecil sekali dorongan niat untuk menggunakan air secara efisien dan retribusinya, jika ada, tidak akan mencukupi untuk pemeliharaan yang layak. Maka hasilnya ialah penggunaan yang sangat tidak efisien, efisiensinya kira-kira hanya di bawah 40% untuk seluruh dunia dan kemerosotan mutu yang semakin melaju pada sistem yang semakin besar.
Sesungguhnya efisiensi dapat ditingkatkan dengan baik, yakni dengan perbaikan cara pengoperasian dan pemeliharaan sistemnya, perbaikan saluran, pendataran lahan supaya pembagian air dapat merata, penyesuaian antara banyaknya pelepasan air dari tandon dan keperluan senyatanya di daerah hilir dan pengelolaan yang lebih efektif apabila air tersebut sudah sampai di lahan pertanian atau dengan menggunakan teknik yang lebih efisien seperti irigasi tetesan.
Perbaikan-perbaikan semacam itu sangat penting mengingat besarnya dampak permintaan irigasi dan rasa keadilan bagi penduduk perkotaan yang berjuang untuk kelangsungan pasokan air yang memadai. Penghamburan air sungguh disayangkan sebab biasanya hal tersebut tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas pertanian seperti yang diharapkan. Tiadanya penyaluran air yang baik pada lahan yang diairi dengan irigasi (untuk penghematan dalam jangka pendek) dapat berakibat terjadinya kubangan dan penggaraman yang akhirnya dapat menyebabkan hilangnya produktivitas.
Sumber-sumber air juga mengalami kemerosotan mutu. Di samping pencemaran dari limbah industri dan limbah perkotaan yang tidak diolah, sumber-sumber tersebut juga mengalami pengotoran berat dari sisa-sisa dari lahan pertanian. Konsep pertanian berkelanjutan haruslah menjamin kualitas lahan kita tetap produktif dengan menerapkan upaya konservasi dan rehabilitasi terhadap degradasi.
Kebijakan pembangunan pertanian dewasa ini, lebih banyak terfokus kepada usaha yang mendatangkan keuntungan ekonomi jangka pendek dan mengabaikan multifungsi yang berorientasi pada keuntungan jangka panjang dan keberlanjutan (sustainabilitas) sistem usaha tani. Pertanian berkelanjutan, suatu bentuk yang memang harus dikembangkan jika kita ingin menjadi pewaris yang baik yang tidak semata memikirkan kebutuhan sendiri tetapi berpandangan visioner ke depan.
Pembangunan pertanian berkelanjutan menyiratkan perlunya pemenuhan kebutuhan (aspek ekonomi), keadilan antar generasi (aspek sosial) dan pelestarian daya dukung lingkungan/ lahan (aspek lingkungan). Sehingga harus ada keselarasan antara pemenuhan kebutuhan dan pelestarian sumber daya lahannya. Berbagai praktek explorasi lahan yang tidak sesuai dengan daya dukung lahannya hendaklah dihindari. Penggunaan lahan diatas daya dukung lahan haruslah disertai dengan upaya konservasi yang benar.
Oleh karena itu, untuk menjamin keberlajutan pengusahaan lahan, dapat dilakukan upaya strategis dalam menghindari degradasi lahan melalui:
(1) Penerapan pola usaha tani konservasi seperti agroforestri, tumpang sari dan pertanian terpadu; (2) Penerapan pola pertanian organik ramah lingkungan dalam menjaga kesuburan tanah dan (3) Penerapan konsep pengendalian hama terpadu merupakan usaha-usaha yang harus kita lakukan untuk menjamin keberlanjutan usaha pertanian.
Hal tersebut berkorelasi pada kebutuhan akan adanya manajemen terintegrasi sumber daya air, yang bila tidak dilakukan akan berdampak pada pengerusakan sumber daya air secara fisik, institusional dan selanjutnya berimplikasi pada sosioekonomi. Keadaan manajemen air di Indonesia pada saat ini termasuk dalam kategori yang kurang baik. Bila dibiarkan hal ini akan menyebabkan persoalan yang tidak menguntungkan.
Oleh karena itu, perlu dilakukan pencegahan yang sistematis dan terencana. Para pengambil keputusan dan pihak-pihak yang berwenang membutuhkan suatu kajian yang dapat menjembatani latar belakang keilmuan diantara mereka sehingga bisa memformulasi suatu keputusan yang seimbang dan harmonis antara fungsi sosial, lingkungan dan ekonomi dari sumber daya air.
2.      Bidang Industri
Bidang industri sesungguhnya menggunakan air jauh lebih sedikit apabila dibandingkan dengan bidang pertanian (irigasi), namun dampaknya lebih parah bila dipandang dari dua segi. Pertama, penggunaan air bagi industri sering tidak diatur dalam kebijakan sumber daya air nasional, maka cenderung berlebihan. Kedua, pembuangan limbah industri yang tidak diolah dapat menyebabkan air permukaan atau air bawah tanah menjadi terlalu berbahaya untuk dikonsumsi (http://www.usia.gov/posts/jakarta/)
Penggunaan air bagi industri seringkali juga sangat tidak efisien. Karena tidak dapat memasok kebutuhan industri melalui sistem yang dikelola oleh pemerintah daerah dan karena dorongan yang menggebu untuk pertumbuhan ekonomi, perusahaan industri mengembangkan sendiri jaringan airnya secara swasta. Biaya air semacam ini seringkali sangat rendah dan karena biaya tersebut hanya merupakan bagian kecil dari seluruh biaya manufaktur, maka mereka tidak merasa terdorong untuk mengadakan konservasi.
Banyaknya air yang diperlukan untuk manufaktur dapat sangat berbeda-beda, tergantung pada proses industri yang diterapkan dan ukuran daur ulangnya. Untuk mengurangi permasalahan tersebut, maka sangatlah perlu adanya kegiatan pengaturan yang tepat untuk penyedotan air dan pengenaan biaya yang benar untuk air agar  dapat mendorong masyarakat untuk menggunakannya secara lebih efisien, tanpa harus mempengaruhi biaya produksi secara mencolok. Biaya penggunaan air, bahkan di negara-negara yang tarifnya pun sudah sesuai dengan biaya menyeluruh pemeliharaan sumber, biasanya hanya merupakan bagian yang sangat kecil (1% sampai 3%) dari biaya produksi industri.
Bahkan di industri-industri yang “padat air” jumlah air yang dipakai sangat kecil biasanya 20% pada industri pengolahan pangan, 25% pada industri kertas, dan 33% pada tekstil. Sisanya didaur-ulang (kecenderungan ini semakin meningkat di negara-negara industri) atau dikeluarkan sebagai limbah cair. Penentuan tarif yang lebih realistik, meskipun penting untuk sektor ini, tetap saja tidak merupakan dorongan untuk penggunaan yang lebih efisien. Yang lebih penting adalah pengaturan dan mendisiplinkan alokasi air dan persyaratan pengendalian pencemaran yang lebih keras.
Air buangan industri sering dibuang tanpa melalui proses pengolahan apapun. Air tersebut dibuang langsung ke sungai dan saluran air yang akan mencemari lingkungan laut, atau kadang-kadang buangan tersebut dibiarkan saja meresap ke dalam sumber air tanah. Kerusakan yang diakibatkan oleh buangan ini sudah melewati proporsi volumenya. Banyak bahan kimia modern begitu kuat sehingga sedikit kontaminasi saja sudah cukup membuat air dalam volume yang sangat besar tidak dapat digunakan untuk minum tanpa proses pengolahan khusus.
Untuk masalah tersebut, sebaiknya kita melakukan pencegahan bukan penyembuhan. Seperti laporan dari Bank Dunia dan Bank Investasi Eropa berjudul Pencemaran Industri di Kawasan Laut Tengah: “Perbaikan pada efisiensi dalam pengoperasian dan pemulihan sumber air jauh lebih baik dan kemungkinan besar akan memberikan hasil yang lebih banyak daripada pengolahan pada akhir proses yang mahal, sebab banyak masalah pencemaran berkaitan langsung dengan masalah-masalah pengoperasian dan pemeliharaan, serta rendahnya niat untuk konservasi dan pemulihan sumber air”.
Masalahnya bukan hanya karena tidak cukup persediaan air, air yang ada itu pun tidak dikelola secara layak atau dibagikan secara merata. Bagian air yang hilang karena kebocoran terlalu besar. Dengan menengok kembali pengalaman selama bertahun-tahun, Tarif yang dikendalikan secara politis biasanya terlalu rendah untuk menutup biaya produksi, namun demikian banyak tagihan rekening air tetap tidak terbayar, sehingga usaha perawatan untuk pencegahan tidak terpedulikan.
Di berbagai kota, perbaikan yang paling utama ditunda hingga sistem jaringannya mencapai ambang kerusakan, tepat pada waktu itu dimulailah babak baru suatu proyek penanaman modal yang besar. Hal tersebut akan menyebabkan pemerintah kota terjebak dalam masa depan yang tak menentu.Dalam mengatasi masalah tersebut, biasanya mereka lebih mudah memperoleh dana untuk membangun sistem penyediaan baru, yang secara politis sangat gampang dilihat, daripada mencari dana untuk memperbaiki barang-barang yang mendekati kebobrokan.


3.      DAMPAK KONVERSI LAHAN
Kita menyadari bahwa kegiatan pembangunan disamping akan menghasilkan manfaat, juga akan membawa resiko (dampak negatif). Keduanya harus diperhitungkan secara seimbang. Dampak negatif harus kita hilangkan atau ditekan seminimal mungkin. Kegiatan pembangunan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap degradasi lahan antara lain kegiatan deforesterisasi, industri, pertambangan, perumahan dan kegiatan pertanian sendiri.
Erosi tanah merupakan penyebab kemerosotan tingkat produktivitas lahan DAS bagian hulu, yang akan berakibat terhadap luas dan kualitas lahan kritis semakin meluas. Penggunaan lahan diatas daya dukungnya tanpa diimbangi dengan upaya konservasi dan perbaikan kondisi lahan sering akan menyebabkan degradasi lahan Misalnya lahan di daerah hulu dengan lereng curam yang hanya sesuai untuk hutan, apabila mengalami alih fungsi menjadi lahan pertanian tanaman semusim akan rentan terhadap bencana erosi dan atau tanah longsor.
Erosi tanah oleh air di Indonesia (daerah tropis), merupakan bentuk degradasi lahan yang sangat dominan. Perubahan penggunaan lahan miring dari vegetasi permanen (hutan) menjadi lahan pertanian intensif menyebabkan tanah menjadi lebih mudah terdegradasi oleh erosi tanah. Akibat degradasi oleh erosi ini dapat dirasakan dengan semakin meluasnya lahan kritis. Praktek penebangan dan perusakan hutan (deforesterisasi) merupakan penyebab utama terjadinya erosi di kawasan daerah aliran sungai (DAS).
Sebagai contoh, pada tahun 2000 banyak terjadi deforesterisasi atau penebangan hutan liar, baik di hutan produksi ataupun dihutan rakyat, yang menyebabkan terjadinya kerusakan hutan dan lahan. Pada tahun 2000, kerusakan hutan dan lahan di Indonesia mencapai 56,98 juta ha,sedangkan tahun 2002 mengindikasikan berkembang menjadi 94,17 juta ha, atau meningkat 65,5% selama 2 tahun. Kerusakan yang disebabkan erosi tidak hanya dirasakan dibagian hulu (on site) saja, akan tetapi juga berpengaruh dibagian hilir (off site) dari suatu DAS (http://www.psp3ipb.or.id/uploaded/WP10.pdf).
Konversi lahan pertanian yang semakin meningkat akhir-akhir ini merupakan salah satu ancaman terhadap keberlanjutan pertanian. Salah satu pemicu alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan lain adalah rendahnya isentif bagi petani dalam berusaha tani dan tingkat keuntungan berusahatani relatif rendah ( http://www.tempointeraktif.com/nasional/)
Alih fungsi lahan banyak terjadi justru pada lahan pertanian yang mempunyai produktivitas tinggi menjadi lahan non-pertanian. Dilaporkan dalam periode tahun 1981-1999, sekitar 30% (sekitar satu juta ha) lahan sawah di pulau Jawa, dan sekitar 17% (0,6 juta ha) di luar pulau Jawa telah menyusut dan beralih ke non-pertanian, terutama ke areal industri dan perumahan.
Banyak areal lumbung beras nasional kita yang beralih guna seperti pusat pembangunan di dalam pinggir perkotaan. Daerah pertanian ini umumnya sudah dilengkapi dengan infrastruktur pengairan sehingga berproduksi tinggi. Alih guna lahan sawah ke areal pemukiman dan industri sangat berpengaruh pada ketersedian lahan pertanian dan ketersediaan pangan serta fungsi lainnya. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka alih fungsi lahan perlu dihentikan agar fungsi lahannya tidak berubah dan tetap dimanfaatkan sesuai fungsinya.
4.      RUMAH TANGGA
Situasi di wilayah perkotaan jauh lebih jelek daripada di daerah sumber air. Banyak rumah tangga yang terlayani, terpaksa merawat WC dengan cara seadanya karena langkanya air, dan tanki septik membludak karena layanan pengurasan tidak dapat diandalkan, atau hanya dengan menggunakan cara-cara lain yang sama-sama tidak tuntas dan tidak sehat. Bahkan andaikan hal ini tidak mengakibatkan masalah dari para penggunanya sendiri, tetap juga sering berbahaya terhadap orang lain dan merupakan ancaman bagi lingkungan, sebab limbah mereka lepas tanpa proses pengolahan.
Itulah masalah-masalah para penerima layanan. Namun, kira-kira 30% penduduk perkotaan harus menerima keadaan bahwa mereka tidak memiliki perangkat sanitasi yang memadai. Hal ini berarti bahwa dalam suatu kota berpenduduk 10 juta orang, setiap hari ada kira-kira 750 ton limbah manusia yang tak tertampung dan menumpuk di sembarang tempat -mungkin 250.000 ton zat-zat penyebab penyakit tersebar di jalan-jalan dan di tempat-tempat umum, atau di saluran-saluran air (http://klm-micro.com/blog/)





KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
1.      Penyebab menurunnya kualitas dan kuantitas air bumi saat ini adalah tidak berjalan normalnya siklus hidrologi, sebagai dampak dari pencemaran lingkungan dan aktifitas manusia.
2.      Dampak dari penurunan kualitas dan kuantitas air bumi bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat adalah terjadinya banjir dan tanah longsor akibat tingginya curah hujan dan rendahnya kualitas air PDAM di NTB.
3.      Salah satu cara sederhana menjadikan air sebagai sahabat dekat manusia adalah dengan memperingati hari air sedunia, membuang sampah pada tempatnya, menggunakan air seefisien mungkin/ penghematan dan menanam pohon.
4.      Manajemen pengelolaan air terpadu dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan kualitas dan kuantitas air adalah saling bekerjasamanya seluruh aspek kehidupan (baik bidang pertanian, industri, rumah tangga, dll) dalam menggunakan air dengan efisien agar tidak ada lagi penyalahgunaan air.

SARAN
Mari kita selamatkan air mulai saat ini dan  menjadikan air sebagai sahabat dekat manusia. Mulailah saat ini, dari hal yang kecil untuk menciptakan sesuatu yang besar untuk dunia.
DAFTAR PUSTAKA
http : //raisfawwazi.blogspot.com