INTI SARI
Air sangat penting sehingga membuat
kehidupan tak akan berjalan tanpa adanya air. Air yang ada di bumi terbentuk
karena adanya siklus hidrologi. Siklus inilah yang perlu dijaga agar tetap berjalan normal.
Bila siklus tersebut berjalan normal, maka dapat mempertahankan kuantitas dan
kualitas air bumi.
Saat
ini siklus hidrologi tak lagi berjalan normal, karena terganggu oleh penyalahgunaan
air dan berbagai kegiatan manusia dalam mempertahankan hidupnya. Kegiatan-kegiatan
manusia yang tak sewajarnya dan penyalahgunaan air tersebut seperti dalam
bidang industri, rumah tangga, pertanian, kehutanan dan berbagai aspek lainnya.
Masalah penebangan hutan dan global warming juga merupakan penyebab
terganggunya siklus hidrologi yang ditandai dengan kekeringan panjang pada
musim kemarau dan banjir pada musim penghujan.
Upaya
pengelolaan air yang paling mudah, cepat dan praktis adalah dengan memulai dari
diri sendiri untuk mengefisienkan penggunaan air dan adanya kerjasama berbagai
aspek kehidupan untuk bersama-sama mengatasi masalah rendahnya kuantitas dan
kualitas air saat ini. Misalnya dalam bidang kehutanan dan pertanian dengan
mendukung, mensukseskan dan melaksanakan NTB hijau untuk penanaman pohon dan
tanaman pangan.
Dengan adanya pengelolaan air
terpadu yang melibatkan semua aspek kehidupan
manusia, maka diharapkan masing-masing aspek tersebut mampu berjalan
sebagaimana mestinya tanpa harus merusak lingkungan air. Sehingga manusia mampu
bersahabat dekat dengan air dan saling menguntungkan.
PENDAHULUAN
1. LATAR
BELAKANG
Air memang tampak sederhana,
sesederhana kata ‘air’ itu sendiri. Namun, ketidakberdayaan makhluk hidup tanpa
air semestinya membuat kita berfikir bahwa air ternyata menyimpan segudang
informasi yang sungguh penting. Dengan memiliki pengetahuan inilah kita akan mengetahui
betapa air, molekul yang hanya tersusun atas dua atom hidrogen dan satu atom
oksigen, adalah cairan yang sangat luar biasa. Dibalik segala keistimewaannya,
air juga dapat mendatangkan bencana.
Kekeringan atau banjir adalah dua
bencana akibat air yang sangat kurang atau terlalu berlimpah. Ini adalah
isyarat penting betapa air tidak sekedar diciptakan begitu saja. Namun, air
juga harus ada tersedia dalam jumlah yang seimbang agar kehidupan di bumi dapat
berlangsung dengan baik.
Ketersediaan air di bumi sangat
diperngaruhi oleh siklus hidrologi. Siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah
berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi,
presipitasi, evaporasi dan transpirasi. Pemanasan air samudera oleh sinar
matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi dapat berjalan secara kontinyu.
Jumlah
air di bumi sangat banyak, baik dalam bentuk cairan, uap, maupun padat/ es.
Jumlah air seakan terlihat semakin banyak karena es di kutub utara dan kutub
selatan mengalami pencairan terus-menerus akibat pemanasan global bumi sehingga
mengancam kelangsungan hidup manusia di bumi.
Namun,
hal tersebut berbanding terbalik dengan apa yang kita rasakan saat ini. Setiap
hari air semakin sulit untuk didapat dan menjadi barang mahal. Kini, kita harus
membeli air untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Entah apa jadinya dunia
tanpa air. Tentu kita tak pernah membayangkan bila air sudah tak ada lagi, maka
kehidupan pun tak akan pernah ada.
Kegiatan
yang dilakukan oleh manusia dalam mempertahankan hidupnya, justru memperparah
keadaan alam dan lingkungan yang tidak bersahabat. Banyak penyalahgunaan lahan/
konversi lahan, penebangan hutan/ pembalakan liar dan tidak tidak adanya
efisiensi dalam pemanfaatan air. Terkadang manusia mampu menjadi pahlawan untuk
lingkungan tetapi di sisi lain, ada pula individu yang serakah dan egois dalam
bertindak.
Untuk
mengetahui dan memecahkan permasalahan di atas, inilah yang melatarbelakangi
kami menyusun karya ilmiah ini. Informasi dari karya ilmiah ini,
diharapkan dapat memberikan informasi dan tambahan pengetahuan bagi para
pembaca, agar dapat mendorong perubahan dalam mencapai kehidupan dan lingkungan
air yang bersahabat dan saling menguntungkan.
2.
RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah yang terdapat dalam
karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :
1.
Mengapa kualitas dan kuantitas air bumi
saat ini menurun?
2.
Apakah dampak penurunan kualitas dan
kuantitas air bumi bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat?
3.
Bagaimana menjadikan air sebagai
sahabat dekat manusia?
4.
Bagaimana manajemen pengelolaan air
terpadu dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan kualitas dan kuantitas air?
3.
TUJUAN PENULISAN
Karya ilmiah ini bertujuan untuk :
1.
Mengetahui penyebab penurunan kualitas
dan kuantitas air di bumi,
2.
Mengetahui dampak yang terjadi karena
penurunan kualitas dan kuantitas air bumi, khususnya di wilayah Nusa Tenggara
Barat,
3.
Mengetahui bagaimana menjadikan air
sebagai sahabat manusia dan manajemen pengelolaan air terpadu untuk
meningkatkan kualitas dan kuantitas air yang merupakan kerjasama berbagai
bidang kehidupan.
4.
MANFAAT PENULISAN
Karya ilmiah ini memiliki manfaat
sebagai berikut :
1.
Sebagai media informasi dan
pembelajaran mengenai manajemen pengelolaan air secara terpadu,
2.
Menyadarkan masyarakat untuk saling
bekerjasama disegala bidang kehidupan, dalam rangka meningkatkan kualitas dan
kuantitas air.
TINJAUAN PUSTAKA
Air yang ada di bumi terbentuk karena adanya siklus
hidrologi, dimana siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah
berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi,
presipitasi, evaporasi dan transpirasi. Siklus inilah yang perlu dijaga agar
tetap berjalan normal. Bila siklus tersebut berjalan normal, maka dapat
mempertahankan kuantitas dan kualitas air bumi (http://www.lablink.or.id/).
Air, benda yang paling berharga di dunia, saat ini mengalami
penurunan kualitas dan persediaannya sudah sampai pada tahap yang kritis. Bukan
hanya di Indonesia yang mengalami masalah air ini, tapi masyarakat dunia pun
sedang mengahadapi persolan yang sama. Penurunan kualitas dan persediaan air
akibat tercemar limbah seperti limbah industri, limbah rumah tangga dan limbah
yang lainnya (http://m.cybermq.com)
Laju kerusakan hutan NTB mencapai
20 ribu hektar pertahun yang menjadi persoalan mendasar yang perlu dipecahkan,
karena persoalan tersebut membawa permasalahan baru yakni menyusutnya
mata air yang terjadi begitu cepat (http://infostatntb.wordpress.com/).
Masalah air terjadi karena adanya
peningkatan penduduk bumi sehingga meningkatkan pula kebutuhan air. Kebutuhan
yang meningkat akan semakin menekan pada sistem air global yang berkaitan
dengan efek pemanasan global. Peningkatan jumlah penduduk dan ekonomi menjadi
pendorong utama kebutuhan air, sementara itu ketersediaannya dipengaruhi oleh
peningkatan evaporasi (penguapan) akibat peningkatan temperatur permukaan bumi
(http://assets.wwfid.panda.org/downloads/watershed_ina_lores.pdf).
Peristiwa
banjir dan tanah longsor di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara dan Kabupaten
Sumbawa Barat, NTB terjadi pada tanggal 9 dan 10 Januari 2009. Kejadian ini
terjadi karena tingginya curah hujan sepanjang tanggal 9-10 Januari 2009 yang
menyebabkan bobot massa tanah bertambah sehingga terjadi gerakan tanah pada
lereng bagian atas yang lemah yang berbatasan dengan batuan keras pada bagian
bawah.
Material longsor diperkirakan
membendung aliran sungai yang kemudian jebol karena tidak sanggup menahan
kuatnya aliran air. Volume air yang besar kemudian mengalir di sepanjang aliran
dengan menggerus bagian
kiri, kanan dan dasar
sungai sehingga menyebabkan banjir bandang yang melanda pemukiman di lereng
bagian bawah (http://www.ppk-depkes.org/)
Pertanian beririgasi merupakan
pengguna air terbesar. Pada umumnya, lebih 80% dari air yang ada dicurahkan
khusus untuk pertanian. Tetapi karena biasanya air disalurkan dengan gratis
atau dengan tarif yang banyak disubsidi, maka kecil sekali dorongan niat untuk
menggunakan air secara efisien dan retribusinya, jika ada, tidak akan mencukupi
untuk pemeliharaan yang layak
Bidang industri sesungguhnya
menggunakan air jauh lebih sedikit apabila dibandingkan dengan bidang pertanian
(irigasi), namun dampaknya lebih parah bila dipandang dari dua segi. Pertama,
penggunaan air bagi industri sering tidak diatur dalam kebijakan sumber daya
air nasional, maka cenderung berlebihan. Kedua, pembuangan limbah industri yang
tidak diolah dapat menyebabkan air permukaan atau air bawah tanah menjadi
terlalu berbahaya untuk dikonsumsi
Konversi
lahan pertanian yang semakin meningkat akhir-akhir ini merupakan salah satu
ancaman terhadap keberlanjutan pertanian. Salah satu pemicu alih fungsi lahan
pertanian ke penggunaan lain adalah rendahnya isentif bagi petani dalam
berusaha tani dan tingkat keuntungan berusahatani relatif rendah (http://www.tempointeraktif.com/nasional/)
Situasi di wilayah perkotaan jauh lebih jelek daripada di
daerah sumber air. Banyak rumah tangga yang terlayani terpaksa merawat WC
dengan cara seadanya karena langkanya air, dan tanki septik membludak karena
layanan pengurasan tidak dapat diandalkan, atau hanya dengan menggunakan
cara-cara lain yang sama-sama tidak tuntas dan tidak sehat.
Kira-kira 30% penduduk perkotaan harus menerima keadaan bahwa
mereka tidak memiliki perangkat sanitasi yang memadai. Hal ini berarti bahwa
dalam suatu kota berpenduduk 10 juta orang, setiap hari ada kira-kira 750 ton
limbah manusia yang tak tertampung dan menumpuk di sembarang tempat -mungkin
250.000 ton zat-zat penyebab penyakit tersebar di jalan-jalan dan di tempat-tempat
umum, atau di saluran-saluran air (http://klm-micro.com/blog/)
METODOLOGI PENULISAN
Metodologi penulisan yang digunakan
dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini adalah studi kepustakaan dari
perpustakaan Universitas Mataram, data-data sekunder diambil dari artikel dan
brosur-brosur, data-data sekunder dari Badan Pusat Statistik, Bapeda dan browsing
internet.
PEMBAHASAN
1. MENURUNNYA KUALITAS DAN KUANTITAS
AIR BUMI
|
Siklus
Hidrologi Normal
|
Siklus hidrologi terus bergerak
secara kontinyu, yaitu dengan cara
sebagai berikut :
1. Evaporasi,
transpirasi dan Evapotranspirasi (Penguapan),
2. Kondensasi
(pengembunan),
3. Presipitasi
(pembentukan hujan) dan
4. Perkolasi
/ Infiltrasi (pembentukan air bawah
tanah)
Bila salah
satu dari proses di atas terganggu, maka akan mengganggu proses yang lain
karena pada dasarnya siklus hidrologi
tersebut memiliki proses yang berputar dan setiap prosesnya saling mendukung.
Tidak
normalnya siklus hidrologi disebabkan oleh banyak faktor, selain karena umur
bumi yang sudah tua, berbagai kegiatan manusia juga menimbulkan dampak yang
memperparah ketidaknormalan siklus hidrologi tersebut. Salah satu contoh
kegiatan manusia seperti penebangan liar
pada hutan-hutan yang masih produktif, yang merupakan sumber mata air. Penebangan
hutan yang terus terjadi menyebabkan kerusakan hutan.
Badan
Pusat Statistik NTB menyatakan pada tahun 2009 yang lalu, laju kerusakan hutan
NTB mencapai 20 ribu hektar pertahun yang menjadi persoalan mendasar yang perlu
dipecahkan, karena persoalan tersebut membawa permasalahan baru yakni
menyusutnya mata air yang terjadi begitu cepat. Selain itu, menyebabkan
terjadinya pemanasan global.
Pemanasan
global atau yang dikenal dengan istilah global
warming begitu hangat
dibicarakan beberapa tahun terakhir ini, karena manusialah yang paling
merasakan dampaknya. Karena pemanasan global yang terjadi, iklim di Nusa
Tenggara Barat sejak 2008 lalu suhunya naik lebih cepat dari rata-rata dunia,
yang terjadi akibat degradasi sumber daya alam di Nusa Tenggara Barat relative
parah, sehingga terindikasi dari kenaikan suhu udara selama 35 tahun terakhir.
Kenaikan suhu udara periode januari
1971 sampai 2006 rata-rata 0.5oC atau melampaui kenaikan suhu
rata-rata dunia sebesar 0.7 oC per 100 tahun. Pada periode tahun
yang sama, di Provinsi Nusa Tenggara Barat suhu maksimal sebesar 32 oC,
namun 35 tahun terakhir meningkat menjadi 34-35 oC. Kenaikan suhu
udara itu, antara lain dipicu oleh kerusakan lingkungan, terutama kawasan hutan
dan pertanian yang kemudian berpengaruh terhadap segala bidang kehidupan sosial
(http : //raisfawwazi.blogspot.com)
Salah satu persoalan kebutuhan
manusia yang terpengaruh sebagai dampak pemanasan global tersebut adalah
ketersedian air. Ketersediaan air merupakan permasalahan yang penting yang
terkait dengan perubahan iklim. Masalah air terjadi karena adanya peningkatan
penduduk bumi sehingga meningkatkan pula kebutuhan air.
Kebutuhan yang meningkat akan
semakin menekan pada sistem air global yang berkaitan dengan efek pemanasan
global. Peningkatan jumlah penduduk dan ekonomi menjadi pendorong utama
kebutuhan air, sementara itu ketersediaannya dipengaruhi oleh peningkatan
evaporasi (penguapan) akibat peningkatan temperatur permukaan bumi
Selain
adanya pengaruh pemanasan global, penurunan kualitas dan
persediaan air adalah akibat dari pencemaran limbah seperti limbah industri,
limbah rumah tangga dan limbah yang lainnya. Untuk mengetahui kualitas air dalam
suatu perairan, dapat dilakukan dengan mengamati beberapa parameter kimia, seperti
oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) dan kebutuhan oksigen biologis
(Biological Oxy-gen Demand= BOD).
Oksigen
terlarut (Dissolved Oxygen = DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk
pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan
energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan
untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber
utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara
bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut. Kecepatan
difusi oksigen dari udara, tergantung sari beberapa faktor, seperti kekeruhan
air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus, gelombang
dan pasang surut (http://m.cybermq.com).
Untuk mengetahui kualitas air PDAM
di wilayah Nusa Tenggara Barat, dapat dilihat pada tabel berikut :
Data Bakteriologis dan Status
Desinfeksi PDAM NTB Tahun 2009
|
2. DAMPAK TERGANGGUNYA KUALITAS DAN KUANTITAS AIR DI NUSA TENGGARA
BARAT
Salah
satu dampak terganggunya kualitas dan kuantitas air di NTB adalah banjir dan
tanah longsor akibat tingginya curah
hujan. Peristiwa banjir dan tanah longsor di Kabupaten Lombok
Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara dan Kabupaten Sumbawa Barat, NTB terjadi pada tanggal 9
dan 10 Januari 2009. Disamping menyebabkan rusaknya 30 rumah penduduk,
terputusnya jalur penghubung antar pemukiman sebagai akibat rusaknya jembatan,
dan putusnya pipa saluran air bersih di Dusun Todo, Desa Bentek, juga
mengakibatkan rusaknya beberapa PLTMH di Kabupaten Lombok Barat (http://www.ppk-depkes.org/)
Karena tingginya curah hujan, bobot massa
tanah bertambah sehingga terjadi gerakan tanah pada lereng bagian atas yang
lemah yang berbatasan dengan batuan keras pada bagian bawah. Material longsor
diperkirakan membendung aliran sungai yang kemudian jebol karena tidak sanggup
menahan kuatnya aliran air. Volume air yang besar kemudian mengalir di
sepanjang aliran dengan menggerus bagian kiri, kanan dan dasar
sungai sehingga menyebabkan banjir bandang yang melanda pemukiman di lereng
bagian bawah.
Akibat insiden
tanah longsor tersebut, beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH)
di Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Tengah mengalami kerusakan. PLTMH tersebut
adalah Sedau I, Sedau II, Selelanai dan Lantan, dengan total kerugian lebih
dari Rp. 3 miliar. Diperkirakan layanan listrik untuk ± 1.150 KK akan terputus
sampai dengan beroperasinya kembali PLTMH tersebut.
3. MENJADIKAN AIR SEBAGAI SAHABAT DEKAT
MANUSIA
Setiap
tanggal 22 Maret diperingati sebagai World Water Day (Hari Air Sedunia). Air,
benda yang paling berharga di dunia, saat ini mengalami penurunan kualitas dan
persediaannya sudah sampai pada tahap yang kritis. Bukan hanya di Indonesia
yang mengalami masalah air ini, tapi masyarakat dunia pun sedang mengahadapi
persolan yang sama. Penurunan kualitas dan persediaan air akibat tercemar
limbah seperti limbah industri, limbah rumah tangga dan limbah yang lainnya.
Kesadaran
dan kepedulian dari seluruh masyarakat dunia diperlukan untuk memanfaatkan dan
melestarikan sumber daya air (SDA) secara berkelanjutan. Maka kita sebagai
makhluk yang 70 %-nya terdiri dari air seharusnya menyadari bahwa air mempunyai
peranan yang sangat vital. Dan air pun merupakan sumber daya alam yang memenuhi
hajat hidup orang banyak, sehingga perlu dilindungi agar dapat tetap bermanfaat
bagi hidup dan kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Sekitar
71 % dari muka bumi ini adalah air.
Kehidupan hampir seluruhnya air, 50 sampai 97 persen dari seluruh berat tanaman
dan hewan hidup juga air. Oleh karena itu, “Mari Kita Selamatkan Air Mulai Saat
ini” dan “Menjadikan Air Sebagai Sahabat
Dekat Manusia”
Salah
satu caranya adalah mengurangi pencemaran terhadap air, membuang sampah pada
tempat yang semestinya, jangan membuang sampah ke selokan, menanam kembali
pohon-pohon yang dapat menyerap air dan menyimpan air. Selain menyelamatkan
persediaan air (kuantitas), kita juga perlu mempertimbangkan kualitas airnya.
Selain itu, dengan menggunakan air seefisien mungkin, mampu menjadikan hal
kecil menjadi sesuatu yang besar untuk lingkungan dan kehidupan.
4. MANAJEMEN PENGELOLAAN AIR TERPADU
Usaha peningkatan kualitas dan
kuantitas air dilaksanakan secara bersama-sama dan saling mendukung antar
segala bidang kehidupan, misalnya dalam bidang pertanian, kehutanan, industri,
rumah tangga, dll. Dengan adanya kerja sama disemua bidang kehidupan, untuk
menciptakan keseimbangan air di bumi dan menjaga siklus hidrologi yang
berlangsung normal.
Manajemen pengelolaan air terpadu
dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
1. Bidang Pertanian
Pertanian
beririgasi merupakan pengguna air terbesar. Pada umumnya, lebih 80% dari air
yang ada dicurahkan khusus untuk pertanian. Tetapi karena biasanya air
disalurkan dengan gratis atau dengan tarif yang banyak disubsidi, maka kecil
sekali dorongan niat untuk menggunakan air secara efisien dan retribusinya,
jika ada, tidak akan mencukupi untuk pemeliharaan yang layak. Maka hasilnya
ialah penggunaan yang sangat tidak efisien, efisiensinya kira-kira hanya di
bawah 40% untuk seluruh dunia dan kemerosotan mutu yang semakin melaju pada
sistem yang semakin besar.
Sesungguhnya
efisiensi dapat ditingkatkan dengan baik, yakni dengan perbaikan cara
pengoperasian dan pemeliharaan sistemnya, perbaikan saluran, pendataran lahan
supaya pembagian air dapat merata, penyesuaian antara banyaknya pelepasan air
dari tandon dan keperluan senyatanya di daerah hilir dan pengelolaan yang lebih
efektif apabila air tersebut sudah sampai di lahan pertanian atau dengan
menggunakan teknik yang lebih efisien seperti irigasi tetesan.
Perbaikan-perbaikan
semacam itu sangat penting mengingat besarnya dampak permintaan irigasi dan
rasa keadilan bagi penduduk perkotaan yang berjuang untuk kelangsungan pasokan
air yang memadai. Penghamburan air sungguh disayangkan sebab biasanya hal
tersebut tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas pertanian seperti yang
diharapkan. Tiadanya penyaluran air yang baik pada lahan yang diairi dengan
irigasi (untuk penghematan dalam jangka pendek) dapat berakibat terjadinya
kubangan dan penggaraman yang akhirnya dapat menyebabkan hilangnya
produktivitas.
Sumber-sumber air juga mengalami
kemerosotan mutu. Di samping pencemaran dari limbah industri dan limbah
perkotaan yang tidak diolah, sumber-sumber tersebut juga mengalami pengotoran
berat dari sisa-sisa dari lahan pertanian. Konsep pertanian berkelanjutan haruslah menjamin kualitas
lahan kita tetap produktif dengan menerapkan upaya konservasi dan rehabilitasi
terhadap degradasi.
Kebijakan
pembangunan pertanian dewasa ini, lebih banyak terfokus kepada usaha yang mendatangkan
keuntungan ekonomi jangka pendek dan mengabaikan multifungsi yang berorientasi
pada keuntungan jangka panjang dan keberlanjutan (sustainabilitas) sistem usaha
tani. Pertanian berkelanjutan, suatu bentuk yang memang harus dikembangkan jika
kita ingin menjadi pewaris yang baik yang tidak semata memikirkan kebutuhan
sendiri tetapi berpandangan visioner ke depan.
Pembangunan
pertanian berkelanjutan menyiratkan perlunya pemenuhan kebutuhan (aspek
ekonomi), keadilan antar generasi (aspek sosial) dan pelestarian daya dukung
lingkungan/ lahan (aspek lingkungan). Sehingga harus ada keselarasan antara
pemenuhan kebutuhan dan pelestarian sumber daya lahannya. Berbagai praktek
explorasi lahan yang tidak sesuai dengan daya dukung lahannya hendaklah
dihindari. Penggunaan lahan diatas daya dukung lahan haruslah disertai dengan upaya
konservasi yang benar.
Oleh
karena itu, untuk menjamin keberlajutan pengusahaan lahan, dapat dilakukan
upaya strategis dalam menghindari degradasi lahan melalui:
(1)
Penerapan pola usaha tani konservasi seperti agroforestri, tumpang sari dan
pertanian terpadu; (2) Penerapan pola pertanian organik ramah lingkungan dalam
menjaga kesuburan tanah dan (3) Penerapan konsep pengendalian hama terpadu
merupakan usaha-usaha yang harus kita lakukan untuk menjamin keberlanjutan
usaha pertanian.
Hal tersebut berkorelasi pada
kebutuhan akan adanya manajemen terintegrasi sumber daya air, yang bila tidak
dilakukan akan berdampak pada pengerusakan sumber daya air secara fisik,
institusional dan selanjutnya berimplikasi pada sosioekonomi. Keadaan manajemen
air di Indonesia pada saat ini termasuk dalam kategori yang kurang baik. Bila
dibiarkan hal ini akan menyebabkan persoalan yang tidak menguntungkan.
Oleh karena itu, perlu dilakukan
pencegahan yang sistematis dan terencana. Para pengambil keputusan dan
pihak-pihak yang berwenang membutuhkan suatu kajian yang dapat menjembatani
latar belakang keilmuan diantara mereka sehingga bisa memformulasi suatu
keputusan yang seimbang dan harmonis antara fungsi sosial, lingkungan dan
ekonomi dari sumber daya air.
2. Bidang
Industri
Bidang industri sesungguhnya
menggunakan air jauh lebih sedikit apabila dibandingkan dengan bidang pertanian
(irigasi), namun dampaknya lebih parah bila dipandang dari dua segi. Pertama,
penggunaan air bagi industri sering tidak diatur dalam kebijakan sumber daya
air nasional, maka cenderung berlebihan. Kedua, pembuangan limbah industri yang
tidak diolah dapat menyebabkan air permukaan atau air bawah tanah menjadi terlalu
berbahaya untuk dikonsumsi (http://www.usia.gov/posts/jakarta/)
Penggunaan air bagi industri
seringkali juga sangat tidak efisien. Karena tidak dapat memasok kebutuhan
industri melalui sistem yang dikelola oleh pemerintah daerah dan karena
dorongan yang menggebu untuk pertumbuhan ekonomi, perusahaan industri
mengembangkan sendiri jaringan airnya secara swasta. Biaya air semacam ini
seringkali sangat rendah dan karena biaya tersebut hanya merupakan bagian kecil
dari seluruh biaya manufaktur, maka mereka tidak merasa terdorong untuk
mengadakan konservasi.
Banyaknya air yang diperlukan untuk
manufaktur dapat sangat berbeda-beda, tergantung pada proses industri yang
diterapkan dan ukuran daur ulangnya. Untuk mengurangi permasalahan tersebut,
maka sangatlah perlu adanya kegiatan pengaturan yang tepat untuk penyedotan air
dan pengenaan biaya yang benar untuk air agar
dapat mendorong masyarakat untuk menggunakannya secara lebih efisien,
tanpa harus mempengaruhi biaya produksi secara mencolok. Biaya penggunaan air,
bahkan di negara-negara yang tarifnya pun sudah sesuai dengan biaya menyeluruh
pemeliharaan sumber, biasanya hanya merupakan bagian yang sangat kecil (1%
sampai 3%) dari biaya produksi industri.
Bahkan di industri-industri yang
“padat air” jumlah air yang dipakai sangat kecil biasanya 20% pada industri
pengolahan pangan, 25% pada industri kertas, dan 33% pada tekstil. Sisanya
didaur-ulang (kecenderungan ini semakin meningkat di negara-negara industri)
atau dikeluarkan sebagai limbah cair. Penentuan tarif yang lebih realistik,
meskipun penting untuk sektor ini, tetap saja tidak merupakan dorongan untuk
penggunaan yang lebih efisien. Yang lebih penting adalah pengaturan dan
mendisiplinkan alokasi air dan persyaratan pengendalian pencemaran yang lebih
keras.
Air buangan industri sering dibuang
tanpa melalui proses pengolahan apapun. Air tersebut dibuang langsung ke sungai
dan saluran air yang akan mencemari lingkungan laut, atau kadang-kadang buangan
tersebut dibiarkan saja meresap ke dalam sumber air tanah. Kerusakan yang
diakibatkan oleh buangan ini sudah melewati proporsi volumenya. Banyak bahan
kimia modern begitu kuat sehingga sedikit kontaminasi saja sudah cukup membuat
air dalam volume yang sangat besar tidak dapat digunakan untuk minum tanpa
proses pengolahan khusus.
Untuk masalah tersebut, sebaiknya
kita melakukan pencegahan bukan penyembuhan. Seperti laporan dari Bank Dunia
dan Bank Investasi Eropa berjudul Pencemaran Industri di Kawasan Laut Tengah:
“Perbaikan pada efisiensi dalam pengoperasian dan pemulihan sumber air jauh
lebih baik dan kemungkinan besar akan memberikan hasil yang lebih banyak
daripada pengolahan pada akhir proses yang mahal, sebab banyak masalah
pencemaran berkaitan langsung dengan masalah-masalah pengoperasian dan
pemeliharaan, serta rendahnya niat untuk konservasi dan pemulihan sumber air”.
Masalahnya bukan hanya karena tidak
cukup persediaan air, air yang ada itu pun tidak dikelola secara layak atau
dibagikan secara merata. Bagian air yang hilang karena kebocoran terlalu besar.
Dengan menengok kembali pengalaman selama bertahun-tahun, Tarif yang
dikendalikan secara politis biasanya terlalu rendah untuk menutup biaya produksi,
namun demikian banyak tagihan rekening air tetap tidak terbayar, sehingga usaha
perawatan untuk pencegahan tidak terpedulikan.
Di berbagai kota, perbaikan yang
paling utama ditunda hingga sistem jaringannya mencapai ambang kerusakan, tepat
pada waktu itu dimulailah babak baru suatu proyek penanaman modal yang besar. Hal
tersebut akan menyebabkan pemerintah kota terjebak dalam masa depan yang tak
menentu.Dalam mengatasi masalah tersebut, biasanya mereka lebih mudah
memperoleh dana untuk membangun sistem penyediaan baru, yang secara politis
sangat gampang dilihat, daripada mencari dana untuk memperbaiki barang-barang
yang mendekati kebobrokan.
3. DAMPAK
KONVERSI LAHAN
Kita
menyadari bahwa kegiatan pembangunan disamping akan menghasilkan manfaat, juga
akan membawa resiko (dampak negatif). Keduanya harus diperhitungkan secara
seimbang. Dampak negatif harus kita hilangkan atau ditekan seminimal mungkin.
Kegiatan pembangunan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap degradasi
lahan antara lain kegiatan deforesterisasi, industri, pertambangan, perumahan
dan kegiatan pertanian sendiri.
Erosi
tanah merupakan penyebab kemerosotan tingkat produktivitas lahan DAS bagian
hulu, yang akan berakibat terhadap luas dan kualitas lahan kritis semakin
meluas. Penggunaan lahan diatas daya dukungnya tanpa diimbangi dengan upaya
konservasi dan perbaikan kondisi lahan sering akan menyebabkan degradasi lahan
Misalnya lahan di daerah hulu dengan lereng curam yang hanya sesuai untuk
hutan, apabila mengalami alih fungsi menjadi lahan pertanian tanaman semusim
akan rentan terhadap bencana erosi dan atau tanah longsor.
Erosi
tanah oleh air di Indonesia (daerah tropis), merupakan bentuk degradasi lahan
yang sangat dominan. Perubahan penggunaan lahan miring dari vegetasi permanen
(hutan) menjadi lahan pertanian intensif menyebabkan tanah menjadi lebih mudah
terdegradasi oleh erosi tanah. Akibat degradasi oleh erosi ini dapat dirasakan
dengan semakin meluasnya lahan kritis. Praktek penebangan dan perusakan hutan
(deforesterisasi) merupakan penyebab utama terjadinya erosi di kawasan daerah
aliran sungai (DAS).
Sebagai
contoh, pada tahun 2000 banyak terjadi deforesterisasi atau penebangan hutan
liar, baik di hutan produksi ataupun dihutan rakyat, yang menyebabkan
terjadinya kerusakan hutan dan lahan. Pada tahun 2000, kerusakan hutan dan
lahan di Indonesia mencapai 56,98 juta ha,sedangkan tahun 2002 mengindikasikan
berkembang menjadi 94,17 juta ha, atau meningkat 65,5% selama 2 tahun.
Kerusakan yang disebabkan erosi tidak hanya dirasakan dibagian hulu (on site)
saja, akan tetapi juga berpengaruh dibagian hilir (off site) dari
suatu DAS (http://www.psp3ipb.or.id/uploaded/WP10.pdf).
Konversi
lahan pertanian yang semakin meningkat akhir-akhir ini merupakan salah satu
ancaman terhadap keberlanjutan pertanian. Salah satu pemicu alih fungsi lahan
pertanian ke penggunaan lain adalah rendahnya isentif bagi petani dalam
berusaha tani dan tingkat keuntungan berusahatani relatif rendah (
http://www.tempointeraktif.com/nasional/)
Alih
fungsi lahan banyak terjadi justru pada lahan pertanian yang mempunyai
produktivitas tinggi menjadi lahan non-pertanian. Dilaporkan dalam periode
tahun 1981-1999, sekitar 30% (sekitar satu juta ha) lahan sawah di pulau Jawa,
dan sekitar 17% (0,6 juta ha) di luar pulau Jawa telah menyusut dan beralih ke
non-pertanian, terutama ke areal industri dan perumahan.
Banyak
areal lumbung beras nasional kita yang beralih guna seperti pusat pembangunan
di dalam pinggir perkotaan. Daerah pertanian ini umumnya sudah dilengkapi
dengan infrastruktur pengairan sehingga berproduksi tinggi. Alih guna lahan
sawah ke areal pemukiman dan industri sangat berpengaruh pada ketersedian lahan
pertanian dan ketersediaan pangan serta fungsi lainnya. Untuk mengatasi masalah
tersebut, maka alih fungsi lahan perlu dihentikan agar fungsi lahannya tidak
berubah dan tetap dimanfaatkan sesuai fungsinya.
4. RUMAH
TANGGA
Situasi di wilayah perkotaan jauh lebih jelek daripada di
daerah sumber air. Banyak rumah tangga yang terlayani, terpaksa merawat WC
dengan cara seadanya karena langkanya air, dan tanki septik membludak karena
layanan pengurasan tidak dapat diandalkan, atau hanya dengan menggunakan
cara-cara lain yang sama-sama tidak tuntas dan tidak sehat. Bahkan andaikan hal
ini tidak mengakibatkan masalah dari para penggunanya sendiri, tetap juga
sering berbahaya terhadap orang lain dan merupakan ancaman bagi lingkungan,
sebab limbah mereka lepas tanpa proses pengolahan.
Itulah masalah-masalah para
penerima layanan. Namun, kira-kira 30% penduduk perkotaan harus menerima
keadaan bahwa mereka tidak memiliki perangkat sanitasi yang memadai. Hal ini
berarti bahwa dalam suatu kota berpenduduk 10 juta orang, setiap hari ada
kira-kira 750 ton limbah manusia yang tak tertampung dan menumpuk di sembarang
tempat -mungkin 250.000 ton zat-zat penyebab penyakit tersebar di jalan-jalan
dan di tempat-tempat umum, atau di saluran-saluran air (http://klm-micro.com/blog/)
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
1. Penyebab menurunnya
kualitas dan kuantitas air bumi saat ini adalah tidak berjalan normalnya siklus
hidrologi, sebagai dampak dari pencemaran lingkungan dan aktifitas manusia.
2. Dampak dari penurunan
kualitas dan kuantitas air bumi bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat adalah
terjadinya banjir dan tanah longsor akibat tingginya curah hujan dan rendahnya
kualitas air PDAM di NTB.
3. Salah satu cara
sederhana menjadikan air sebagai sahabat dekat manusia adalah dengan
memperingati hari air sedunia, membuang sampah pada tempatnya, menggunakan air
seefisien mungkin/ penghematan dan menanam pohon.
4. Manajemen
pengelolaan air terpadu dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan kualitas dan
kuantitas air adalah saling bekerjasamanya seluruh aspek kehidupan (baik bidang
pertanian, industri, rumah tangga, dll) dalam menggunakan air dengan efisien
agar tidak ada lagi penyalahgunaan air.
SARAN
Mari kita selamatkan air mulai saat
ini dan menjadikan air sebagai sahabat
dekat manusia. Mulailah saat ini, dari hal yang kecil untuk menciptakan sesuatu
yang besar untuk dunia.
DAFTAR PUSTAKA
http :
//raisfawwazi.blogspot.com
